Ada peribahasa yang menyebutkan “Tanpa guru kita tidak ada apa-apanya” mungkin peribahasa itu merupakan peribahasa yang tepat untuk topik yang akan kita bahas kali ini. Karena tanpa peran guru khususnya guru computer yang mengajarkan kita tentang FOSS maka kita sebagai murid juga tidak akan bisa mengoperasikan FOSS tersebut. Apakah sebegitu pentingnya sehingga kita harus belajar FOSS? Ya, sebab menurut hasil penelitian yang di teliti di Jakarta bagian Timur pada sekolah SMA baik negeri ataupun swasta siswa yang diajarkan FOSS baik BlankOn ataupun ubuntu sejak kelas X sampai kelas XII maka siswa tersebut selain dapat mengoperasikan FOSS siswa tersebut pasti bisa juga mengoperasikan Windows, pasalnya system kerja FOSS lebih rumit ketimbang Windows bagi siswa yang terbiasa menggunakan Windows tetepi bagi siswa yang sejak awal sudah diajarkan cara mengoperasikan FOSS maka saat ia menggunakan Windows ia tidak akan kaget lagi. Apalagi sekarang ini banyak perusahaan-perusahaan baik yang besar maupun menengah sudah mengaplikasikan software FOSS kedalam system operasi komputernya. Banyaknya perusahaan yang mengaplikasikan FOSS kedalam system operasi computer mereka karena FOSS tersedia kode sumber pembentuknya (Opened source) sehingga bila sewaktu-waktu terlihat suatu kelemahan dalam diri FOSS tersebut maka perusahaan tersebut dapat meminta tolong kepada programmer untuk memperbaiki kelemahan tersebut. Sedangkan Windows tidak memberikan kode sumbernya sehingga bila sewaktu-waktu terdapat suatu kelemahan maka tidak ada seorangpun yang bisa memperbaikinya selain orang programmer dari Windows-nya sendiri. FOSS sendiri memiliki kepanjangan yaitu Free/Open Source Software yang artinya perangkat lunak yang bebas untuk digunakan, digandakan, dipelajari, dan dikembangkan ulang karena tersedia kode sumbernya (Opened Source), dan dapat disebarluaskan untuk apa saja. Sebenarnya FOSS sudah hadir di Indonesia sejak 10 tahun lalu tetapi baru berkembang sejak beberapa tahun lalu. FOSS memiliki beberapa turunan yaitu ada BlankOn, ubuntu, openSUSE, dan masih banyak lagi. Bila diibaratkan pada penggunaan Microsoft seperti, Windows XP, Windows VISTA, Windows’97, dll. Bila Microsoft memiliki Ms Word untuk mengetik, Ms Excel untuk membuat tabel, Internet Explorer untuk browsing internet. Maka FOSS juga memiliki OpenOffice.org Writer untuk mengetik, OpenOffice.org Math setara dengan Ms Excel, Mozilla Firefox sama dengan Internet Explorer, dan masih banyak lagi. Menurut editor yang biasa mencetak sampul buku mengatakan bahwa mengedit gambar untuk dijadikan cover buku lebih mudah menggunakan OpenOffice.org Writer ketimbang Ms Word, bahkan ada salah satu film animasi di Hollywood yang akan diluncurkan pada tahun ini yang mana proses pembuatannya menggunakan software LINUX untuk membuat karakter animasinya.
FOSS di lengkapi berbagai program untuk memenuhi hampir semua kebutuhan pengguna computer, termasuk pendidikan muali dari TK, SD, SMP, SMA/SMK, kursus computer, jasa internet (Warnet), sampai perguruan tinggi. Sejak jenjang SD sampai SMA FOSS sudah memiliki kurikulum yang menjadi standard KTSP, program-program FOSS yang digunakan sebagai kurikulum KTSP sejak SD sampai SMA diantaranya:
- SD: Gimp atau Gcompris(mengenal bentuk bangun ruang); LinuxMint XFCE atau edubuntu(mengenal gambar pada masing-masing tema, mengenal pengetahuna alam); OpenOffice.org writer(membuat tulisan sederhana); OpenOffice.org Draw(pembuatan objek gambar); Mozilla Firefox(mengakses halaman internet); OpenOffice.org Impress(program presentasi gambar).
- SMP: LinuxMint atau BlankOn(Pengenalan Sistem Operasi); OpenOffice.org Calc(membuat dokumen program pengolah angka); mail.yahoo.com Thunderbird(penggunaan E-mail); NVU, Quanta, Bluefish(Pembuatan homepage sederhana dengan HTML).
- SMA: BlankOn(Menggunakan system operasi komputer); Nautilus, Gftp(Menggunakan File Transfer Protocol); Inkspace(membuat perangkat lunak pembuat grafis bitmap dan vector).
Tidak sedikit keuntungan yang bisa kita dapat dengan menggunakan FOSS pada PC kita, diantarnya:
1. Meningkatkan kemampuan local (peningkatan mutu SDM dibidang TIK).
2. Menghemat biaya pengeluaran untuk membeli lisensi (menghemat devisa).
3. Meningkatkan keamanan nasional.
4. Mengurangi pelanggaran HaKI di bidang hak cipta software.
5. Memudahkan pelokalan, seperti bahasa, program, dan tampilan.
6. Meningkatkan kemampuan berkompetisi secara global.
7. Mengurangi total biaya kepemilikan.
8. Meningkatkan keamanan organisasi pengguna TIK.
9. Mengurangi ketergantungan vendor di bidang TIK.
10. Meningkatkan akses terhadap informasi.











1 Komentar
Mei 25, 2008 pukul 3:44 am
postingan artikel ini sudah dibaca oleh saya. semoga sukses…
-dbu-
[www.donnybu.com]